Sebuah Pelajaran Berharga


Kisah nyata dari seorang sahabat :

Kemarin siang sehabis mengajar seorang temanku tiba-tiba menghampiriku,”Makan siang yuk,” ajaknya. “Oke,” jawabku. Akhirnya dia mengajakku makan di sebuah warung bakso dekat Stadion ‘Trikoyo’ di kotaku tercinta. Sampai di warung bakso tersebut suasana masih sepi. Baru ada beberapa orang. Kami masih memilih tempat duduk yang enak. Mungkin karena masih pada Jumat’an. Begitu parkir, seperti biasa, pelayannya sudah menanyakan mau makan apa, minum apa. Kami pesan dua porsi bakso + teh botol (karena ada pepatah “apapun makanannya, minumnya selalu teh botol —promosi hehehehe).

Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. Tiba-tiba ada seorang pemuda berpakaian lusuh, seorang pedagang asongan nongol di samping kami, kami agak kaget.

” Tisu mbak..?” tanyanya menawarkan dagangan. Aku sedikit cuek. Ugh, tapi sedetik kemudian aku menoleh kearahnya, dia manusia sepertiku, tidak pantas aku sombong mengacuhkannya, pikirku. Tanpa sadar tanganku merogoh tas kecil yg kubawa.

” Tisu yg kering 1 ya dek..” kataku kepadanya sambil menyodorkan uang 2 ribuan.

” Wah..tidak ada kembalian mbak, cukup seribu saja” sahutnya.

” Kembaliannya buat adek aja yach..” jawabku singkat.

Bocah itupun pergi tanpa berkata apa-apa.

Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan dijalan. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umur sekitar 20-an. Bagi kami ia terlalu pemalas utk bekerja. Ah tidak, buru-buru kutepis rasa suudzon itu. Menjadi pedagang asongan bukanlah pekerjaan hina, itu adalah pekerjaan halal. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir atau jadi kernet, atau yah jadi pak ogah yang suka malakin cepek atau gopek kepada anak2 sekolah dijalan.

Perbincangan kami mulai ngelantur ke mana-mana. Tentang kira-kira umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa nggak, kenapa dia jadi pedagang asongan dan lain lain. Kami masih makan saat kami melihatnya diseberang jalan menawarkan dagangan.

Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil di lampu merah. Menawarkan dagangannya. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu.

Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Bagaimanapun juga siapa yang bilang hidup ini adil? Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menjadi pedagang asongan? Hihihi…

Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak dagangannya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya, juga penolakan dari para pejalan kaki dan orang2 yg kebetulan ditemuinya berpapasan dijalan. Bahkan, selain penolakan, di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga. Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas tanah. Tertunduk lesu…

Kami pun selesai makan. Aku dan temanku membayar makanan dan bergegas menuju tempat parkir motorku. Ketika tanganku baru saja meraih helm yg akan kupakai, tiba-tiba disampingku telah berdiri pemuda si pedagang asongan tersebut.

“Mbak, ini bukan hak saya. Ini uang kembalian mbak membeli tisu tadi. Maaf ya mbak harus menunggu lama karena hanya mbak satu2nya orang yg membeli dagangan saya sejak pagi tadi…” katanya sambil menyodorkan kembalian uang seribuan kepadaku waktu membeli tisu tadi. Dan dia langsung melangkah pergi.

BOOM…..! Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.

Ini tidak dapat kupikir dengan logika!

Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan haknya. Aku masih terbengong-bengong sewaktu menerima uang Rp. 1.000,- yang dia kembalikan. Padahal aku benar-benar ikhlas memberikannya tadi.

Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang? Tetapi, dia merasa cukup dibayar segitu. Bahkan dia bilang tadi dagangannya dari pagi hanya saya satu-satunya pembeli, berarti seharian tadi dagangannya belum laku sama sekali. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku. Padahal keadaanku sudah – sangat jauh – lebih baik dari dia. Allah sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilakuku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

 Diatas motor dalam perjalanan pulang itu kejadian barusan masih melekat dibenakku. Aku terharu dan airmata menitik. Allah..maafkan hamba yg masih kurang bersyukur atas segala nikmatMu kepadaku. Maafkan hamba yg tadi sempat bersuudzon kepada pemuda itu. Ternyata, soal kejujuran..aku tidak lebih baik dari dia….T.T

 “Fabiayyi alaa i robbikumaa tukadzibaan”... ini adalah ayat alquran favoritku. Tapi ternyata aku bener2 belum bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan keseharianku. Hikz..

 Siang itu aku merasa mendapat pelajaran berharga. Siang itu aku seperti diingatkan. Bahwa kejujuran itu langka. Bahwa kepuasan hati itu ada didalam rasa syukur.

“Dan jika engkau mensyukuri nikmatKU, maka Aku akan menambah nikmatKu kepadamu. Tapi jika engkau mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih” ( QS.Ibrahim , 7 ).

Barakallahufikum..semoga bermanfaat

Wassalam

—————–

– Angel –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s