A Story at School


Memang perjalanan dari rumah Ary terlalu jauh untuk mencapai calon sekolah barunya. Ary lewati itu dengan penuh percaya diri dan  suka cita. Sekarang merupakan hari pertamanya untuk mendaftar beasiswa masuk SMP favorit yang ada di kota kelahirannya, yaitu Sangatta. Tidak mudah memang untuk masuk di sekolah itu, namun mudah bagi Ary yang selalu mendapat peringkat sepuluh besar sejak kelas satu SD, dan tidak heran jika Ary menjadi murid kebanggaan para guru SD nya saat itu. Ary termasuk orang yang pendiam, namun terkadang egois dan penuh emosi.

***

Ary terengah-engah lari menuju koridor calon sekolah barunya itu.

“Uugghhh……dimana tempat pendaftarannya ya?” Tanyanya dalam hati

Kesal yang mendera batinnya mulai lelah karena posisi sekolah yang  rumit untuk di pahami.

“Ooo, ini to tempatnya.” Ary sudah menemukan jalan untuk pendaftaran beasiswa masuk sekolah tersebut. Ary segera menemui salah seorang guru yang kebetulan menjadi panitia pendaftaran siswa baru tersebut.

“eeennggg, permisi Bu, saya ingin mendaftar masuk sekolah ini dengan jalur beasiswa, bagaimana ya Bu caranya dan dimana?” tanyanya.

“Oh, kamu siapa?”tanya ibu guru rangkap panitia yang ternyata bernama Bu Nana. Nama itu terlihat dari nama di seragam yang bertuliskan “Nana Anggraeni”

“Hmmm, saya Ary Firmansaputra Bu!”

“Oh, kamu siswa yang dari SD O17 itu ya?”

“Iya Bu!”

“silahkan datangi guru yang bernama Bu  Merry, dia yang mengurus siswa-siswi beasiswa, berkas-berkasmu sudah di setor beberapa hari oleh kepala sekolah SD mu!” jelas Bu Nana

“Baik bu, terima kasih atas informasinya”

“ya, sama-sama!” jawab bu Rini sambil tersenyum.

***

Ary berlari menemui guru yang telah di informasikan kepadanya tadi, ia mencari keberadaan Bu  Merry di ruang guru.

“Permisi bu, saya mencari ibu Merry, apakah ada?” tanya Ary dengan penuh  kebingungan.

“Oh, saya sendiri, ada apa ya nak?”

“Saya Ary Firmansaputra, saya sudah mendaftar di sekolah ini dengan jalur beasiswa, dan sekarang ingin menanyakan  waktu tesnya bu””

“Ohh, untuk jalur beasiswa kamu akan bersaing dengan murid-murid lain yang berasal dari beberapa kabupaten di daerah sini, jadi bersiap-siaplah untuk menjalani tes PSB. Besok lusa silahkan kamu datang lagi kesini, untuk menjalani tes PSB sesuai jam dan tempat yang telah ditentukan!” jelas bu Merry

“Baik bu!, saya pemisi dulu

“ya, silahkan.”

***

Keesokan harinya sebelum test…

Brrrraaaaaaaakkkk!”

Ary menabrak salah seorang perempuan yang juga akan mendaftar di sekolah itu. Jika di lihat sekilas perempuan itu memang cantik, namun dengan rambut yang sedikt keriting terurai membuat keanggunannya berkurang, namun tetap saja perempuan itu berwajah manis.

“Aduh saa-ki-ii-t,!” seru gadis itu.

“Eennnggg maaa-a-a-fff-ff” saya tidak sengaja, kamu gak apa-apa kan?

“gak apa-apa kok”

Keluguan gadis itu menambah pesonanya, Ary mencoba untuk menenangkan diri lagi dan mencoba untuk tenang, Ary ingin bertanya siapa nama gadis itu, tetapi ia takut dan ragu, takut gadis itu marah. Gadis kecil yang sangat lugu behadapan dengan Ary yang masih terlihat sangat polos.

Tes berakhir tinggal menunggu hasilnya.

***

Di kamarnya Ary masih teringat kejadian tadi di sekolah, ia merasa bersalah karena telah menabrak gadis itu. Pasti sakit. Pikirnya. Mengapa ia juga tidak bertanya namanya yang nantinya jika bertemu dengan gadis itu lagi. “Ah nggak penting! Sudahlah!” katanya dalam hati. Ah, masa perempuan gak pake jilbab, tipe aku kan minimal cewek yang pake jilbab. Ary melanjutkan kata-katanya dalam hatinya.

***

Pada hari yang telah di tentukan tiba lah pengumuman yang di tunggu-tunggu. Jelas sudah Ary masuk dalam tes itu. Hari pertama ia masuk kelas. Ia merasa asing dengan keadaan kelasnya yang sangat tidak mendukung, ia melihat di sekeliling kelas itu, dan ia menangkap ada seseorang yang berada agak  jauh dari tempat duduk  yang di pilih oleh Ary. Gadis itu sedang berbincang-bincang dengan teman barunya. Ary masih mengingat-ingat siapa gadis itu. Yang tenyata adalah gadis yang ia tabrak pada saat pendaftaran siswa baru. Ternyata Ary satu kelas dengan gadis itu dan lama kelamaan Ary mengetahui nama gadis itu. Dia benama Asna.

Hari-minggu-bulan berlalu, Ary tampak mulai mengenal sekolahnya. Namun ia bukan lagi menjadi anak yang pintar. Wajar. Di sekolah itu penuh persaingan. Persaingan yang dilakukan oleh siswa-siswa beasiswa lainnya. Tidak aneh jika saat itu ia dipindah dari kelas unggulan menuju ke kelas yang biasa-biasa aja. Nah, di kelas yang biasa-biasa ini dimulai awal perkenalan yang lebih dekat.

***

Satu tahun sudah Ary berada di sekolah itu, dan waktunya untuk menuju ke kelas 2. Tanpa disangka dan tanpa di duga. Ary menatap wajah seorang gadis yang sebenarnya ia kenal, namun tak begiru akrab yang sedikit berubah. Asna. Ya. Itu Asna. Gadis yang pernah ia tabrak dulu sebelum pelaksanaan test beasiswa. Gadis itu juga sudah setengah tahun bersama sekelas, namun Ary masih belum begitu mengenalnya. Alasannya canggung dengan gadis itu.

Gadis itu telah mengenakan jilbab dan menambah kecantikan dan manis paras wajahnya. Membuat  jantung  Ary berdegup kencang. Pertanda apakah itu?. Asna tampak anggun dengan perubahan tampilannya yang baru. Seragam yang serba panjang, juga jilbabnya yang tergerai-gerai. Inilah sebenarnya sosok yang diidam-idamkan oleh seorang Ary.  Wajar jika Ary menyukai gadis yang berjilbab, karena menurut pandangannya gadis berjilbab dapat menambah keangguanan dan cenderung dapat menjaga dirinya.

Tahun ini Ary dan Asna sekelas lagi, entah takdir apa yang mampu mempertemukan mereka berdua. Setelah Ary mengetahui Asna telah menggunakan jilbab, Ary terlihat salah tingkah jika bertatapan secara tidak sengaja dengan Asna, sementara Asna hanya terlihat biasa saja dan tidak terlihat canggung sama sekali. Asna biasa saja.

***

Anjar berjalan di koridor sekolah seusai dari kantin. Ary mengejar Anjar tergesa-gesa dan penuh peluh dari dahinya. Ary mengejar Anjar dari kantin. Anjar merupakan sahabat Ary sejak di kelas 1.

“Ada apa Ri?” tanya Anjar dengan penuh keheranan.

“Anjar, bisa nggak aku cerita sebentar?”

“Bisa, dimana?”

“Di bangku dekat lapangan sana aja”.

Ary sebenarnya mulai menyukai Asna yang sudah mengalami perubahan. Ternyata itu yang membuat Ary selalu terlihat salah tingkah jika melihat atau bertemu dengan Asna. Perasaan Ary, seorang anak SMP yang mulai menyukai seorang gadis pantarannya sungguh mengherankan bagi siapa saja yang mendengarnya. Lucu kedengarannya.

“Begini Anj, aku suka sama cewek, tapi jangan di kasih tau siapa-siapa ya!”. Kata Ary

“loh, emangnya kenapa ? Bisa juga kamu suka sama cewek ? Haha….” Anjar menyambut ucapan Ary dengan setengah tertawa. Anjar tidak menyangka, orang yang terlihat alim di depannya, ternyata bisa menyukai seorang wanita.

“Eh, serius. Tapi aku nggak mau  pacaran, aku cuma mau cerita aja sama kamu”

“Sama siapa?”

“Ada, teman sekelas kita!”

“Kan banyak, ada Amalia, Ajeng, Intan, Tia, Ann…..

“Stooop,! Ary memotong apa  yang dikatakan oleh Anjar. “Ngapain kamu sebutin semua nama-nama cewek di kelas. Belum ada yang kesebut lagi namanya. Ah, payah kamu Anjar!. Aku nggak mau kasih tau kamu sekarang, mulutmu ntar ember. Mulutmu kan kayak perempuan Anj, hehe”.

“Eh,! Dasar kamu Ri. Sok cowok juga..hehe.

(memang cowok kali ! bisik Ary dalm hati)

Anjar sudah mengetahui banyak hal tentang Ary. Menurut pandangannya, Ary orang yang tertutup, tapi tidak dengan dirinya.  Dengan Anjar, Ary selalu bercerita tentang masalah-masalah yang di hadapinya. Begitu juga sebaliknya. Ary juga sudah banyak mengetahui tentang watak Anjar yang usil, cerewet, overaction dan ceplas-ceplos. Persahabatan mereka sangat erat. Wajar kalau Ary jauh lebih mengetahui tentang apapun yang menyangkut Anjar, bahkan tentang cewek yang Anjar suka, Ary sudah tahu. Namun, gadis yang disukai oleh Anjar tidak berada di satu sekolahnya, melainkan lain sekolah dengan mereka.

***

Sementara Asna mondar-mandir di depan kelasnya. Rupanya ia menunggu sahabatnya. Sahabatnya namanya Ayu. “Tumben Ayu belum datang jam segini” raut cemas di wajah Asna tampak terlihat. Ayu tak kunjung-kunjung datang. Asna terlihat khawatir, jika sahabat yang satu ini tidak masuk sekolah, ia tidak bisa bertukar pikiran bersama Ayu jika Ayu tidak datang. Otaknya akan buntu jika tidak ada Ayu. Hanya Ayu yang cocok dengan maksud hati dan kata-katanya. Asna sangat nyaman bersahabat dengan Ayu.

Ternyata Ayu sedang sakit, jadi Ayu tidak dapat mengikuti pelajaran pada hari ini. Asna gelisah, bingung akan berbuat apa.

Tampak dari pojok bangku, Ary melihat Asna yang gelisah tidak mau diam. Ary hanya melihat saja, tidak mungkin Ary mendatangi Asna. Ary malu. Ary takut. “ah, sudahlah. Dia pasti nanti juga diam sendiri.” Pikir Ary.

***

Tidak terasa waktu berputar begitu cepat. Ary dan kawan-kawan sudah duduk di kelas 3. Hari ini Ary terlihat begitu sumringah, karena tidak satu kelas lagi dengan Asna. Jika ia masih satu kelas dengan Asna, itu akan menambah penderitaannya selama berbulan-bulan karena memendam perasaan kepada Asna. Setiap bertemu dengan Asna hati Ary sangat sakit. Sakit Kenapa ???  Entahlah. Sebenarnya Asna sudah menyadari kasalahtingkahan Ary selama ini. Namun ia acuh saja, karena Ary juga sama seperti itu.

Selama di kelas 3, Ary menjalani kehidupannya dengan biasa saja. Ia sudah jarang bertemu dengan Asna. Walaupun kadang perasaan itu masih berkecamuk dalam hatinya. Pikiran anak SMP.

***

tahun 2010 saat duduk dibangku SMA…

Masa-masa SMP sudah dijalaninya dengan penuh warna. Ary sudah menduduki bangku SMA. Ary memilih bersekolah disitu dengan alasan dekat dari rumah. Sementara Anjar melanjutkan sekolahnya di Kota Bontang.

***

Ary menyadari bahwa di sekolah itu ia akan bertemu dengan orang itu lagi. Siapa lagi jika bukan Asna.  Sebenarnya Asna adalah orang yang diharapkan oleh Ary. Namun juga orang yang ingin dihindari oleh Ary. Baginya Asna hanya bisa membuat hatinya tersakiti karena perasaan cinta yang tak tersampaikan. Lagi-lagi Ary sekelas lagi dengan Asna, perasaan jengkel dan perasaan hatinya meluap-luap.

Ary pulang ke rumah dengan pandangan yang tidak jelas. Lalu tanpa sengaja bercerita pada adiknya yang telah mengetahui tentang wanita yang di sukai kakaknya itu. Bagaimana tidak, di kamar Ary terpampang jelas Nama Asna *******  di dinding kamarnya. Di lemarinya. Bahkan di buku-bukunya.

“ Kenapa kak?” tanya adiknya dengan penuh keheranan yang melihat ada sesuatu yang aneh di wajahnya.

“Aku sekelas lagi sama dia!”

“Siapa kak?” tanya adiknya lagi.

“itu…. itu… siapa lagi kalo bukan…..”kata-katanya terhenti begitu saja, kaget karena yang mendengar adalah adiknya sendiri.

“Ooooooo,,, aku udah tau namanya, tapi belum tau orangnya. Kok kakak bisa suka sih sama dia, dari SMP lagi”

“Siapa memangnya?, sotoy lu!. haha, ya.. gak tau kenapa??????” ya begitulah…” Ary tidak begitu menggubris kata-kata adiknya itu.

***

Ary berjalan ke sekolahnya dengan gontai dan lemas, ia yakin hari ini akan bertemu lagi dengan cinta yang tak sampai itu. Apalagi setelah ia tahu bahwa Asna sudah resmi menjadi pacar teman sekelasnya sendiri. Edo namanya. Sebenarnya Edo sudah tahu jika Ary tengah menyukai Asna, namun karena Ary tidak juga menyatakan cintanya kepada Asna, Edo memberanikan diri untuk lebih dulu menyatakan cintanya pada Asna dan jelas Asna menerimanya.

Setelah Asna mengenakan jilbab, banyak yang mengaguminya. Khususnya bagi teman-teman lelakinya. Sifat dan sikapnya pun ikut berubah sesuai dengan penampilannya. Tampak anggun dan cantik. Kata-katanya pun lemah lembut, tapi cepat seperti kereta api tercepat yang ada di Jepang.

***

Kali ini Ary tak mau menyiksa dirinya lagi dengan menyimpan perasaan yang terpendam. Ary mulai untuk menulis sebuah surat yang akan di tujukan kepada Asna. Ia menyadari Asna sudah dimiliki oleh teman sekelasnya, namun ia tak peduli. Ia sudah memikirkan masak-masak mengenai konsekuensinya nanti.

Ary mulai merangkai kata demi kata yang nantinya akan tertulis di kertas putihnya itu. Kata-kata yang bertele-tele. Pikirnya. Lalu ia buang kertas lembaran yang rencananya akan menulis sebuah kata-kata di dalamnya. Ary coba lagi. Ah, jelek. Pikirnya lagi. Ia buang lagi kertas kedua. Hingga sampai kertas kelima ia baru bisa menulis dengan kata-kata tulus yang ingin keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Selesailah sudah surat itu. Tinggal memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada Asna.

Keesokan harinya, Ary berusaha menyampaikan surat itu ke Asna. Namun ia bingung bagaimana menyampaikannya. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk memberikannya secara langsung.

Assalamualaikum Asna…!

Mungkin aku terlalu … dengan mengirim surat ini sama kamu.

Aku tau kamu udah punya Edo sekarang. Dan aku seharusnya minta ma’af kepada Edo, tapi aku nggak punya keberanian untuk bilang sama dia.

Singkat aja. Sebenarnya dari pertama aku ngeliat kamu. Aku sudah ada hati sama kamu.

Tapi aku nggak punya keberanian untuk bilang ini. Tapi daripada aku sakit, mending aku ungkapkan ini ke kamu. Niatku mengirim surat ini bukan untuk menembak kamu untuk menjadi pacarku. Aku hanya sekedar mengungkapkan perasaanku saja. Karena aku belum ingin berpacaran..

Aku harap kamu nggak marah, karena aku beraninya dengan surat aja. Karena aku bukan seseorang yang berani untuk masalah seperti ini.

Mungkin cukup samapai sini saja aku mengungkapkan perasaanku ke kamu.

Aku mohon kamu jangan marah sama aku. Ma’af.

Wassalamualaikum…..!

Saat itu Asna betul-betul kaget membaca surat itu. Asna bingung. Ia merasa bahwa Ary betul-betul terlambat untuk mengatakan itu semua. Kini Asna sudah bersama dengan Edo. Walaupun hubungan pacaran belum tentu membawanya pada pernikahan. Asna mulai merasa bersalah dengan Edo yang telah menjadi pacarnya. Edo yang menurutnya sangat baik kepadanya. Entah apakah yang akan terjadi selanjutnya setelah ada kejadian seperti ini. Cinta 2 hati. Ternyata memang susah untuk diselesaikan masalahnya. Namun ia mulai tersadar dengan kata-kata dalam surat itu “Niatku mengirim surat ini bukan untuk menembak kamu untuk menjadi pacarku. Aku cuma mau mengungkapkan aja”.  Kini Asna sudah mulai mengendalikan emosi jiwanya.

***

Asna pun mulai membalas surat Ary di kamar yang serba pink itu, menambah kenyamanan bagi siapapun yang hinggap di kamarnya yang bagus terawat.

Ia konsentrasikan pikirannya untuk memulai kata-kata pertama dalam surat itu. Akhirnya dalam sekejap mata Asna selesai membuat balasan surat tersebut. Terlihat kepiawainnya dalam membuat kata-kata cinta seperti itu.

Wa’alaikumsalam….!

Terima kasih sudah mencintaiku. Aku hargai itu. Tapi untuk saat ini aku belum memiliki perasaan ke kamu. Setelah kejadian ini, aku harap kamu tetep menjadi Ary yang pintar, rajin dan selalu semangat.

Wassalam….!

***

Ary membaca surat Asna dengan seksama. Ia ulangi beberapa kali.  Ia ulangi lagi. Dalam hatinya ia sudah mulai lega karena beban terberat dalam hidupnya sudah berkurang. Wajah Ary dihiasi dengan senyuman. Seperti orang tidak waras jika diperhatikan. Ary mulai sadar dengan tingkahnya sendiri. Akhirnya ia sudah belajar menjadi pemberani walaupun hanya dengan menulis sebuah surat.

Hari-hari Ary lalui dengan senang hati. Kini ia lebih tenang dan tidak terlalu peduli dengan apapun yang dilakukan oleh Asna. Selama 3 tahun mereka bersama, Asna sudah menjalin hubungan berpacaran dengan beberapa teman Ary di kelas. Ary mulai tidak menggubris apa yang Asna lakukan.

Aku pikir Asna akan bisa menahan diri untuk nggak pacaran sama orang lain selain Edo, ternyata semua pikiranku salah”. Ungkap Ary dalam suara hatinya.

***

Hari ini merupakan hari perpisahan untuk kelas XII IPA 2, mereka sekelas berniat untuk pergi ke pantai yang biasa orang menyebutnya pantai Teluk Lombok. Dari sudut pepohonan Ary tampak hanya memandangi teman-teman sekelasnya yang bermain di tepi pantai. Ary melihat di antaranya ada Asna dan pacarnya yang termasuk teman sekelas Ary. Namanya Aswin. Asna sekarang berubah. Pikir Ary. Sekarang Asna sudah melepas jilbabnya pada saat bepergian. Bahkan dengan pacarnya pun ia sudah tidak malu menunjukkan kemesraannya di depan umum. Rambut kruwil keritingnya pun telah ia rebonding, sehingga tidak tampak rembes pada saat awal Ary menabraknya di koridor sekolah SMP nya dulu. Ternyata Asna mengenakan jilbab hanya untuk menutupi kekurangan dalam dirinya. Hanya untuk menutupi rambut keritingnya. Pikirnya

Rasa kecewa kini membuncah dalam benak Ary. Kesal karena pernah suka Asna, kini Ary mulai menutup dirinya untuk semua wanita dan semua hal yang berkaitan dengan Asna. Entah sampai kapan cerita ini akan berakhir. Kini, ia lebih banyak belajar dari pengalaman masa lalunya dan menjadikannya sebagai kenangan yang berharga ke dalam kehidupannya.

Author. My sister

2 thoughts on “A Story at School

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s