Sistem Biaya Taksiran


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Sistem biaya taksiran merupakan merupakan bagian dari pembelajaran cabang akuntansi yaitu akuntansi biaya. Penerapan dan perhitungan akuntansi dalam sistem biaya taksiran akan dipakai sebagai dasar  untuk mencatat harga pokok produk atau jasa ke dalam rekening buku besar, selain itu sistem biaya taksiran juga digunakan untuk membandingkan biaya taksiran dengan biaya yang sesungguhnya terjadi, serta menentukan besarnya selisih yang timbul diantara biaya taksiran dengan biaya yang sesungguhnya. Karenanya, biaya taksiran dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan oleh manajemen.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan sistem biaya taksiran ?
  2. Apa saja tujuan dari penggunaan sistem biaya taksiran ?
  3. Bagaimana cara menentukan sistem biaya taksiran ?
  4. Bagaimana prosedur akuntansi dalam sistem biaya taksiran ?

1.3  Tujuan

Makalah ini dibuat sebagai informasi tambahan bagi mahasiswa/ mahasiswi, maupun individu yang ingin lebih mengetahui dan mengkaji lebih dalam mengenai penggunaan sistem biaya taksiran di dalam suatu perusahaan.

1.4  Manfaat 

  1. Sebagai bahan presentasi untuk mata kuliah akuntansi biaya.
  2. Sebagai bahan ajar untuk mata kuliah akuntansi biaya.
  3. Digunakan sebagai referensi dalam penerapan sistem biaya taksiran.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pengertian Sistem Biaya Taksiran

Sistem biaya taksiran adalah salah satu sistem biaya yang ditentukan di muka untuk mengolah produk atau jasa tertentu dengan jalan menentukan besarnya biaya bahan baku (raw material cost), biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) dan biaya overhead pabrik (factory overhead) yang diperlukan untuk mengolah produk atau jasa tersebut di waktu yang akan datang.

Sistem biaya taksiran adalah sistem akuntansi biaya produksi yang menggunakan suatu bentuk biaya yang ditentukan dimuka dalam menghitung harga pokok produk yang diproduksi. Sistem biaya taksiran yang sudah ditentukan akan dipakai sebagai dasar untuk :

  1. Mencatat harga pokok produk atau jasa ke dalam rekening buku besar.
  2. Membandingkan biaya taksiran dengan biaya yang sesungguhnya terjadi, serta menentukan besarnya selisih yang timbul.

2.2  Tujuan Penggunaan Sistem Biaya Taksiran

Menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Biaya, menyatakan bahwa :

“Tujuan penggunaan sistem biaya taksiran adalah :

  1. Untuk jembatan menuju sistem biaya standar
  1. Untuk menghindari biaya yang relatif besar dalam pemakaian sistem biaya standar
  1. Untuk pengendalian biaya dan analisis kegiatan
  1. Untuk mengurangi biaya akuntansi “ (2002 : 382)

Dari keterangan di atas mengenai tujuan penggunaan sistem biaya taksiran, maka dapat diuraikan sebagai berikut :

2.2.1   Untuk jembatan menuju sistem biaya standar

Akuntansi biaya menitikberatkan pada penentuan harga pokok produk, yang hanya terbatas pada pengumpulan dan penggolongan biaya yang sesungguhnya terjadi di masa yang lalu (biaya historis atau historical cost). Dalam sistem pengendalian biaya ini pihak manajemen harus menentukan suatu norma untuk mengukur pelaksanaan tindakan tersebut. Sehingga dapat menafsirkan biaya sesungguhnya yang dikumpulkan, apakah terjadi penghematan atau pemborosan dalam pelaksanaan produksi. Maka seringkali biaya taksiran ini digunakan sebelum biaya standar dapat ditentukan, dan penggunaan sistem biaya taksiran dengan sendirinya akan mendorong penggunaan sistem biaya standar.

2.2.2   Untuk menghindari biaya yang relatif besar dalam pemakaian sistem biaya standar

Dalam perusahaan tertentu, pemakaian sistem biaya taksiran lebih ekonomis dibanding dengan sistem biaya standar. Dalam perusahaan kecil, sering mengalami perubahan produk atau produksi, waktu dan biaya yang diperlukan untuk penentuan biaya standar sangat besar, sehingga pemakaian sistem biaya standar tidak ekonomis.

2.2.3        Untuk pengendalian biaya dan analisis kegiatan

Banyak perusahaan yang menggunakan sistem biaya taksiran ini sebagai alat pengendalian biaya dan sebagai dasar untuk menganalisis kegiatannya. Karena perbandingan antara biaya sesungguhnya dengan biaya taksiran dapat memberikan petunjuk mengenai terjadinya pemborosan sehingga dapat dipakai sebagai dasar perbaikan kegiatan

2.2.4        Untuk mengurangi biaya akuntansi

Penghematan biaya akuntansi ini sangat terasa jika menggunakan sistem biaya taksiran ini, apabila perusahaan menghasilkan banyak macam produk atau jika produk diolah melalui banyak departemen.

2.3      Penentuan Sistem Biaya Taksiran

Cara menentukan biaya taksiran adalah dengan memecahnya menjadi beberapa unsur biaya :

  1. Biaya bahan baku
  2. Biaya tenaga kerja langsung
  3. Biaya overhead pabrik

Biaya taksiran bisa ditentukan atas dasar data masa lalu, dari perhitungan, dari rumus kimia atau matematis atau secara sederhana dengan taksiran. Biaya taksiran ditentukan untuk setiap jenis produk yang diproduksi, pada awal masa produksi atau pada awal tahun anggaran.

Dalam penentuan biaya taksiran, biaya bahan baku yang dipakai untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu perlu dilakukan penaksiran kuantitas tiap-tiap bahan baku yang dibutuhkan dan taksiran harga masing-masing.

Penaksiran kuantitas bahan baku yang akan dikonsumsi dalam setiap satuan produk didasarkan pada spesifikasi teknis, percobaan, atau data masa lalu. Penaksiran bahan baku yang dapat didasarkan kepada harga kontrak pembelian dalam jangka waktu tertentu atau jika bahan baku harus dibeli dari waktu ke waktu dan harganya tergantung kepada harga pasar maka penaksiran harga dapat didasarkan kepada daftar harga yang dipublikasikan.

Dalam penentuan taksiran biaya tenaga kerja, harus lebih dahulu diketahui semua jenis kegiatan untuk mengolah produk, karena jam tenaga kerja dipengaruhi oleh kecakapan tiap-tiap karyawan dan jenis pekerjaannya. Dalam menentukan jumlah jam tenaga kerja harus diperhitungkan juga waktu persiapan produksi, material handling, perbaikan mesin, dan lain-lain. Taksiran biaya tenaga kerja merupakan hasil kali taksiran jumlah jam kerja untuk menghasilkan setiap satuan produk dengan tarif biaya tenaga kerja.

Taksiran biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk didasarkan kepada tarif yang ditentukan di muka. Dalam menentukan tarif biaya overhead pabrik diperlukan pemisahan ke dalam unsur tetap dan variabel. Biaya overhead variabel ditaksir dengan melihat hubungan biaya tersebut dengan produksi, dengan anggapan bahwa terdapat hubungan yang konstan diantara jumlah produksi dengan biaya yang dikeluarkan. Biaya overhead pabrik ditaksir dengan cara memperhatikan masing-masing unsur biaya overhead pabrik tetap yang bersangkutan seperti biaya depresiasi mesin, ditaksir dengan memperhitungkan jumlah mesin yang dimiliki sekarang dengan memperhitungkan rencana investasi serta rencana pemberhentian pemakaian mesin yang akan terjadi di masa yang akan datang. Penaksiran jumlah asuransi tergantung kepada kemungkinan perubahan polis asuransi yang diperkirakan akan terjadi dalam periode pemakaian biaya taksiran. Gaji pengawas pabrik dapat ditaksir dengan melihat rencana gaji yang akan dibayarkan kepada pengawas tersebut. Dengan demikian taksiran biaya overhead pabrik tetap merupakan jumlah taksiran masing-masing unsur biaya overhead pabrik tersebut.

2.4      Prosedur Akuntansi dalam Sistem Biaya Taksiran

Dalam sistem biaya taksiran rekening barang dalam proses didebit dengan biaya produksi yang sesungguhnya terjadi dan dikredit sebesar hasil kali jumlah produk selesai dan produk dalam proses dengan biaya taksiran per satuan. Karena harga pokok produk jadi yang masuk gudang dihargai dengan biaya taksiran, maka pada saat dijual, harga pokok penjualannya adalah sebesar hasil kali jumlah produk yang dijual dengan biaya taksiran persatuan. Selisih diantara biaya taksiran dengan biaya sesungguhnya dihitung dengan cara mencari saldo rekening barang dalam proses dan dipindahkan ke rekening selisih.

2.4.1 Prosedur Pencatatan Biaya Bahan Baku

Untuk pencatatan biaya bahan baku semua peristiwa dicatat dengan menggunakan biaya sesungguhnya

2.4.2 Prosedur Pencatatan Biaya Tenaga Kerja

Untuk pencatatan biaya tenaga kerja semua peristiwa dicatat dengan menggunakan biaya sesungguhnya.\

2.4.3        Prosedur Pencatatan Biaya Overhead Pabrik

  1. Pencatatan biaya overhead pabrik sesungguhnya ( dicatat dengan biaya sesungguhnya terjadi)
  1. Pembebanan biaya overhead pabrik ke produk ( dicatat dengan tarif yang telah ditentukan di muka.
  1. Penutupan biaya overhead pabrik sesungguhnya.

2.4.4 Prosedur Pencatatan Persediaan Produk Jadi dan Persediaan BDP

1. Pencatatan persediaan produk jadi (harga pokok produk jadi dihitung dengan mengalikan kuantitas produk jadi dengan biaya taksiran per satuan produk ).

  1. Persediaan barang dalam proses ( harga pokok produk dalam proses dihitung dengan mengalikan unit ekuivalen kuantitasnya dengan biaya taksiran per satuan produk.

2.4.5   Prosedur Pencatatan Harga Pokok Penjualan

2.4.6 Prosedur Pencatatan Selisih Biaya Taksiran dengan Biaya Sesungguhnya

2.4.7  Sistematika Penjelasan Prosedur Akuntansi dalam Sistem Biaya Taksiran

  1. Harga pokok taksiran disusun untuk dimasukkan kedalam sistem akuntansi perusahaan
  2. Rekening persediaan bahan baku, biaya gaji dan upah, serta rekening BOP didebit dan dikredit sebesar harga pokok atau biaya yang sesungguhnya.
  3. Rekening barang dalam proses untuk biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik dibebani (didebit) dengan biaya yang sesungguhnya dinikmati. Rekening ini dikredit atas produk yang selesai atau produk dalam proses pada akhir periode sebesar harga pokok taksiran.
  4. Rekening persediaan produk selesai didebit sebesar harga pokok taksiran atas produk selesai dan dikredit sebesar sebesar harga pokok taksiran atas produk selesai yang dijual.
  5. Rekening harga pokok penjualan didebit sebesar harga pokok taksiran atas produk selesai yang dijual
  6. Pada akhir periode harga pokok produk dalam proses dipindahkan dari setiap rekening barang dalam proses ke dalam rekening persedian produk dalam proses sebesar harga pokok taksirannya.
  7.  Pada akhir periode dihitung selisih biaya yang timbul, dengan jalan membandingkan jumlah debit setiap rekening barang dalam proses (menunjukkan biaya sesungguhnya) dengan sebelah kredit rekening barang dalam proses yang sama (menunjukkan harga pokok taksiran), serta memindahkan selisih biaya ke dalam rekening selisih biaya.
  8. Setelah rekening selisih biaya dihitung, selanjutnya selisih tersebut dialokasikan kembali ke dalam rekening harga pokok penjualan, persediaan produk selesai, dan rekening persediaan produk dalam proses.

2.5 Kebaikan Sistem Biaya  Taksiran

  1. Dapat mengurangi atau menekan biaya adminstrasi ( administrative expense).

Penggunaan beberapa dokumen dasar pada sistem ini dapat dikurangi dan perhitungan harga pokok atau jasa dapat dengan cepat diadakan, sehungga dapat mengurangi besarnya biaya administrasi.

  1. Dapat menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan (decision making) .

Manajemen memerlukan informasi biaya untuk pengambilan keputusan tentang produk atau jasa sebelum diolah, dan pemakaian  harga pokok taksiran menyediakan informasi kepada manajemen untuk pengambilan keputusan tersebut.

  1. Mengantar ke pemakaian sistem harga pokok standar (standard costing ).

Sistem harga  pokok taksiran merupakan  transisi dari pemakaian sistem harga pokok sesungguhnya menuju pemakaian sistem harga pokok standar.

2.6 Kelemahan Sistem Biaya  Taksiran

  1. Harga pokok taksiran yang ditentukan kurang teliti baru dapat dikoreksi pada akhir periode setelah selisih biaya dihitung dan dialokasikan.
  2. Timbulnya selisih biaya yang besar dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang keliru, karena pengambilan keputusan dilakukan sebelum produk atau jasa tersebut diolah.

2.7 Perlakuan Terhadap Selisih Biaya Taksiran

Di dalam akuntansi biaya terdapat bahasan tentang sistem biaya taksiran (estimated cost). Biaya taksiran merupakan salah satu bentuk biaya yang ditentukan di muka sebelum produksi dilakukan atau penyerahan jasa dilakukan. Biaya yang ditaksir meliputi seluruh biaya-biaya yan digunakan untuk menghitung harga pokok produk.

Taksiran, yang berarti prediktif, tentu saja mengandung potensi ketidaktepatan antara apa yang dianggarkan dengan apa yang riil. Ini yang disebut dengan selisih. Selisih ini tentu harus dilakukan perlakuan secara khusus sesuai dengan kaidah-kaidah akuntansi. Selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya taksiran dalam suatu periode akuntansi dapat diperlakukan sebagai berikut:

  • Ditutup ke rekening harga pokok penjualan atau rekening rugi laba
  • Dibagikan secara adil kepada produk selesai dalam periode yang bersangkutan, yaitu dibagikan ke rekening produk jadi dan harga pokok penjualan
  • Dibagikan secara adil ke reening-rekening: persediaan barang dalam proses, persediaan produk jadi, dan harga pokok penjualan
  • Membiarkan selisih-selisih tersebut tetap dalam rekening selisih, sehingga rekening ini berfungsi sebagai deffered account. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan selisih-selisih yang terjadi di antara periode akuntansi akan saling menutup (mengkompensasi).

2.8 Contoh Penerapan Sistem Biaya Taksiran

PT.ICHIBAN adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalm produksi tas yang diolah melalui satu departemen produksi. Dalam menentukan anggaran biaya produksinya (budget of production costs), PT.ICHIBAN menggunakan sistem biaya taksiran.

BBB (raw material cost)         Rp. 4000

BTKL (direct labor cost)          Rp. 3200

BOP (FOH)                               Rp. 1800

Jumlah biaya taksiran             Rp. 9000

Data produksi selama bulan Oktober 1999 adalah sebagai berikut :

Produk jadi (finished goods) ditransfer ke gudang    1000 unit

Produk dalam proses akhir (goods in process)                         200 unit

Data lain yang berkaitan dengan produksi selama bulan Oktober 1999 adalah:

  • Persediaan awal bahan baku (beginning raw material inventory) Rp.300.000
  • Pembelian bahan baku (raw material purchase) selama bulan Oktober yang dilakukan secara kredit adalah Rp.4.000.000
  • Persediaan akhir bahan baku (ending raw material inventory) Rp.200.000
  • Produk yang terjual selama bulan Oktober adalah sebanyak 90 % dari produk jadi.
  • Harga jual per unit Rp.11.000
  • BTKL (direct labor cost) sesungguhnya Rp.3.250.000
  • BOP (factory overhead) sesungguhnya Rp.1.810.000

Diminta :

Buatlah jurnal yang diperlukan untuk mencatat semua transaksi yang terjadi selama bulan oktober 1999 beserta perhitungannya.

Penyelesaian :

  1. Mencatat pembelian bahan baku.

Pembelian                   Rp.4.000.000

Utang dagang                         Rp4.000.000

  1. Mencatat biaya bahan baku yang sesungguhnya dipakai (raw material used).

BDP-BBB                     Rp. 4.100.000

Persed.BB                    Rp. 200.000

Persed.BB                                Rp.  300.000

Pembelian                               Rp.  4.000.000

Perhitungan:

HP. Persed BB awal bulan                     300.000

Pembelian                                                       4.000.000 +

4.300.000

HP.Persed.BB akhir bulan                      200.000 –

BBB selama bulan Oktober 2000                   4.100.000

  1. Mencatat BTKL yang sesungguhnya.

BDP-BTKL                    Rp.3.250.000

Gaji dan upah                          Rp.3.250.000

  1. Mencatat BOP yang sesungguhnya terjadi.

BDP-BOP                     Rp.1.810.000

BOP                                         Rp.1.810.000

  1. Mencatat HP produk jadi.

Persed.produk jadi      Rp.9.000.000

BDP-BBB                                 Rp.4.000.000

BDP-BTKL                                Rp.3.200.000

BDP-BOP                                 Rp.1.800.000

Perhitungan :

Kuantitas produk yang dihasilkan  x bi. Taksiran per satuan.

BBB     = 1000 x 4000             = 4.000.000

BTKL    = 1000 x 3200             = 3.200.000

BOP     = 1000 x 1800             = 1.800.000 +

HP.Taks.produk jadi       9.000.000

  1. Mencatat HP.Persed.produk dalam prosesakhir bulan.

Persed.produk dalam proses Rp.1.300.000

BDP-BBB                                                         Rp.800.000

BDP-BTKL                                                        Rp.320.000

BDP-BOP                                                         Rp.180.000

Perhitungan :

Unit ekuiv. BDP akhir x bi.taks.per satuan

BBB     = 200 x 100% x Rp.4000 = 800.000

BTKL    = 200 x 50 % x Rp. 3200 = 320.000

BOP     = 200 x 50 % x Rp. 1800 = 180.000 +

HP.persed.produk dlm proses akhir      1.300.000

  1. Mencatat penjualan bulan Oktober 2000.

Piutang dagang           Rp.9.900.000

Hasil penjualan                                   Rp.9.900.000

Perhitugan: (90% x 1000 unit) x Rp.11.000 = 9.900.000

  1. Mencatat HP produk yang terjual.

HPP                  Rp.8.100.000

Persed.produk jadi                  Rp.8.100.000

Perhitungan : (90% x 1000 unit) x Rp.9000 = 8.100.000

  1. Mencatat selisih antara biaya taksiran dengan biaya sesungguhnya.

BDP-BBB                     Rp.700.000

BDP-BTKL                    Rp.270.000

BDP-BOP                     Rp.170.000

Selisih                                      Rp.1.140.000

Perhitungan:

Selisih BBB      = 4.100.000 – 4.000.000 – 800.000 =             700.000

Selisih BTKL     = 3.250.000 – 3.200.000 – 320.000 =             270.000

Selisih BOP      = 1.810.000 – 1.800.000 – 180.000 =             170.000 +

1.140.000

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Dari semua penjelasan yang telah dipaparkan pada halaman sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa sistem biaya taksiran merupakan salah satu sistem harga pokok yang ditentukan di muka untuk mengolah produk atau jasa tertentu dengan jalan menentukan besarnya biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang diperlukan untuk  mengolah produk atau jasa tersebut  di waktu yang akan datang. Adapun tujuan penggunaan sistem biaya taksiran, yaitu untuk menjembatani menuju sistem biaya standar, untuk menghindari biaya yang relative besar dalam pemakaian biaya standar, untuk pengendalian dan analisis kegiatan dan untuk mengurangi biaya akuntansi. Cara menentukan biaya taksiran adalah dengan memecahnya menjadi beberapa unsur biaya, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

3.1 Saran

Demikian yang dapat kami jelaskan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

Penulis berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.

Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

http://asarychae.com/

 

http://kumpulantugasekonomi.blogspot.com/2010/02/resum-akuntansi-biaya-sistem-biaya.html

 

http://sap.gunadarma.ac.id/upload/KK-023316.doc

 

http://ssuryaniss.blogspot.com/2011/07/sistem-biaya-taksiran.html

 

http://widada.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13060/SISTEM+BIAYA+TAKSIRAN.doc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s